Pasar Hidup, Etika Jangan Mati

Selasa, 20/05/2025 - 10:13
https://images.app.goo.gl/NR9six112vCapiQS7

https://images.app.goo.gl/NR9six112vCapiQS7

Oleh: ANISYA FANDINI Mahasiswa PNJ

Di tengah bau rempah dan suara ayam, pedagang tersenyum meski dagangannya ditawar rendah. Pasar bukan cuman tempat belanja, tapi ruang saling menghargai dalam wujud paling ederhana.

Setiap pagi, pembeli memenuhi pasar-pasar tradistional di berbagai kota. Diantara lalu-lalang itu, terjadi imteraksi antara penjual dan pembeli yang diwarnai sikap tak mengenakkan. Dari membolak-balik dagangan tanpa izin, menawar dengan nada tinggi, hingga meninggalkan pedagang tanpa sepata kata.

Pak saipul, 49 tahun, penjual daging di pasar kebayoran, bercerita tentang pembeli yang menawar terlalu rendah lalu pergi begitu saja. “bobo-boro beli, senyum aja enggak,” ujarnya. Meski sudah berdagang 20 tahun, perlakuan tak sopan tetap ada.

Di era belanja online makin makmur, keberadaan pasar tradisional tetap penting bagi masyarakat. Tapi sayangnya, perhatian pada etika berinteraksi di pasar justru makin jarang dibahas. Padahal, setiap hari ada jutaan interaksi yang bisa membentuk kebiasaan sosial masyarakat.

Di lapak ikan, ibu muda menawar harga dengan suara pelan, sesekali menyungging senyum. Penjualnya seorang ibu tua melayani dengan sabar. Di akhir transaksi, ibu tidak jadi beli, tapi ia pamit dengan sopan dan bapak itu mengucap “terima makasi bu”.

Dekat lapak ikan, antrian panjang tidak bisa dihindari. Nenek dengan tas belanjanya menunggu dari sepuluh menit, sementara pembeli di depannya berdebat soal timbangan. Tapi sang nenek tetap berdiri tenang.

Tidak jauh dari sana, pedagang telur yang duduk di kursi, wajahnya letih. Seorang pembeli datang sambil menelpon, menunjuk telur, menyebut harga, lalu pergi begitu saja. Penjual hanya tersenyum hambar, menatap daganganya.

Di lapak bawang, wanita dengan nada tinggi, seolah ibu penjual sedang memaksanya untuk beli. Padahal harga tang disebut hanya terpaut dua ribu rupiah dari lapak sebelah. Di wajah penjual, tidak ada amarah. Hanya senyum tipis.

Di sebrang kanan nya, lapak ayam, pemuda berterima aksih setelah membeli satu ekor. Ia mengucapkan “Terima kasih pak,” momen singkat itu memmbuat si bapak terlihat lebih semangat.

Tak jauh dari sana, ibu hamil didahuli oleh dua remaja saat antri di lapak tahu. Salah satunya menyadari dan menarik teman nya lalu berkata “silahkan duluan aja ibu,” katanya sambil tersenyum.

Di lapak buah, dua pembeli berebut plastic kresek. salah satu dari mereka menwarkan kepada nenek yang sedang membawa tas belanja nya “eh sini saya bantu bawaiin nek,” katanya. Terkadang etika paling sederahan lahhir dari spontanitas tulus.

Di lapak tomat, ibu tua memegang satu per satu buah, lalu mengembalikanya. Si penjual dengan senyum nya berkata “ibu jangan di teken-teken gitu ya nanti benyek”. Tapi, ibu tua itu hanya mengangkat bahu dan pergi begitu saja.

Di lapak sayuran, bapak tua bertanya dengan ramah lalu bilang “ibu sayur kangkung nya belum seger ya, besok saya balik lagi deh.” Penjual membalasnya dengan senyum lebar.

Diantara lorong sempit, pedagang dengan sapu lidi ditangannya sibuk membersihkan bekas tumpahan sayur. Bukan tugasnya, bukan lapaknya, tapi dengan inisatif dan niat baiknya bisa membuat orang lain tertegun.

Sementara itu, anak kecil membuang plastic minumamnya sembarangan. Ibunya menegur pelan, memungut plastic itu, dan membuangnya ke tempat sampah. Tidak ada peringatan besar tentang kebersihan, tapi ada aksi kecil yang jauh lebih membekas.

Tidak jarang anak kecil dibawa ikut berlanja. Di satu sisi bagian dari pendidikan, mengenal harga, berbicara kepada orang lain, tahu cara memilih. Tapi etika juga mengajarkan untuk menjaga anak agar tidak lari-larian, tidak mencuri, atau menginjak-injak sayuran yang jatuh.

Menawar itu wajar, tapi caranya yang menentukan wibawa. Ibu paruh baya menawar cabai dengan senyum dan nada lembut, “pak, saya ambil sekilo bisa kurang ga?” si penjual mengangguk ringan, senang dengan cara ibu itu bicara.

Namun tak jarang, nada menawar justru menyerupai perintah “mahal banget sih pak, sebalah sana lebih murah’ kata seorang pembeli dan langsung pergi gitu saja. Penjual hanya menarik napas pelan. Bukan harga yang paling menyakitkan, tapi cara diperlakukan.

Menjelang sore lantai pasar mulai lengket, bau amis sayur dan ikan bercampur dengan plastic berserakan.ada pembeli yang dengan ringan membuang daun pembungkus ke tas, seolah utu urusan orang lain. Tapi ada juga yang membawa kantong sampan sendiri, lalu memungut sisa-sisa belanja dengan hati-hati.

Di dekat pintu masuk, seorang ibu, supiyati, menyiram lapak dengan air dan menyapu sayuran layu yang tercecer. "kalau pasar ini kotor, nanti nggak ada orang yang dating, jadi sepi pasarnya” ujarnya. Etika terhadap lingkungan pasar bukan soal aturan, tapi rasa memiliki.

Di pasar semua orang ingn cepat, tidak semua tahu cara cepat yang sopan. Ada yang menyela antrian sambil berkata, “saya dulu dong, saya beli dikit doang ko” tanpa permisi pada yang lebih dulu menunggu.

Ironisnya, pembeli yang merasa paling modern justru kadang paling semberono. Ada yang mengangkat telpon sambil memesan, lalu marah karena pesanan salah. Ada juga yang menawar harga sambil menghina kualitas barang, padahal belum menyentuhnya.

Tags

Berita Terkait