Kementerian Transmigrasi bersama Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok (RRT) menjajaki penguatan kerja sama di bidang riset, teknologi pertanian
Klikwarta.com, Merauke - Kawasan Transmigrasi Salor di Papua Selatan terus dipersiapkan sebagai salah satu sentra pangan strategis Indonesia. Untuk mendukung peningkatan produktivitas pertanian di kawasan tersebut, Kementerian Transmigrasi bersama Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok (RRT) menjajaki penguatan kerja sama di bidang riset, teknologi pertanian, pengembangan sumber daya manusia, serta industri pendukung sektor pangan.
Kunjungan kerja bersama ini merupakan bagian dari upaya mendukung Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN), khususnya agenda Kedaulatan Pangan sebagaimana menjadi arahan Presiden Prabowo Subianto.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan hasil riset Tim Ekspedisi Patriot (TEP) menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas pertanian di Salor masih memiliki ruang yang sangat besar.
“Riset yang dilakukan Tim Ekspedisi Patriot menemukan beberapa faktor yang memengaruhi produktivitas pertanian, di antaranya kualitas bibit, pengendalian hama, irigasi, serta jalan usaha tani. Pemerintah daerah juga menyampaikan berbagai masukan, termasuk kebutuhan bengkel untuk alat-alat pertanian agar mendukung aktivitas produksi masyarakat,” ujarnya saat kunjungan kerja di Kawasan Transmigrasi Salor, Distrik Kurik, Papua Selatan.
Kawasan Transmigrasi Salor yang mencakup sekitar 40.000 hektare lahan merupakan salah satu lumbung pangan utama di Papua Selatan. Dalam beberapa tahun terakhir, produktivitas padi di kawasan tersebut terus meningkat. Namun demikian, potensi pengembangannya masih sangat besar apabila didukung oleh penerapan teknologi, perbaikan infrastruktur, dan penguatan kapasitas sumber daya manusia.
Duta Besar RRT untuk Indonesia, Wang Lutong, menyampaikan apresiasinya terhadap potensi pertanian yang dimiliki kawasan tersebut.
“Saya sangat terkesan dengan apa yang saya lihat dan dengar hari ini. Ada banyak potensi di sini. Tim ahli pertanian Tiongkok yang sebelumnya mengunjungi wilayah ini juga melihat peluang besar untuk pengembangan pertanian modern,” kata Wang Lutong.
Selain sektor produksi pangan, kedua pihak juga membahas peluang pengembangan industri pendukung pertanian, termasuk kemungkinan pembangunan fasilitas produksi alat dan mesin pertanian di Merauke untuk menekan biaya logistik dan memperkuat rantai pasok kawasan.
“Kami mendukung pemanfaatan teknologi dan pengalaman Tiongkok untuk mendukung pengembangan sektor pertanian di kawasan ini,” lanjut Wang.
Kerja sama yang dijajaki juga mencakup bidang pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. Menurut Menteri Transmigrasi, peningkatan kualitas pendidikan merupakan fondasi utama bagi kemajuan masyarakat Papua.
“Sesuai arahan Bapak Presiden, kita ingin menghadirkan pendidikan terbaik bagi masyarakat Papua sehingga mereka tidak harus selalu pergi ke Jawa untuk memperoleh akses pendidikan berkualitas,” ujarnya.
Kementerian Transmigrasi juga akan memperkuat kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi dan lembaga riset guna mendukung pengembangan kawasan pangan modern di Papua Selatan.
Lebih lanjut, Mentrans menegaskan bahwa transformasi transmigrasi saat ini tidak lagi berfokus pada perpindahan penduduk semata, melainkan pada pembangunan kawasan yang mampu menciptakan nilai tambah ekonomi, meningkatkan produktivitas, menarik investasi, membuka lapangan kerja, dan mempercepat pertumbuhan daerah.
“Melalui transmigrasi, kita ingin mendatangkan pengetahuan, teknologi, dan sumber daya manusia terbaik untuk membantu masyarakat Papua mengelola potensi yang mereka miliki. Bukan sekadar memindahkan orang, tetapi menghadirkan kapasitas dan kesempatan yang dapat mempercepat kemajuan kawasan,” tegasnya.
Kolaborasi Indonesia dan Tiongkok di Salor diharapkan menjadi salah satu model pengembangan kawasan transmigrasi berbasis riset, teknologi, dan pendidikan, sekaligus memperkuat posisi Papua Selatan sebagai salah satu pilar penting ketahanan pangan nasional di masa depan. (**)








