Pekerja Batik Pratiwi Krajan Cepu sedang menyelesaikan orderan batik yang akan dikirim ke pelanggan
Klikwarta.com, Blora - Bagi masyarakat Cepu dan sekitarnya, nama batik Pratiwi Krajan mungkin sudah tidak asing lagi. Ya, batik yang dirintis Pancasunu Puspitosari atau akrab dipanggil Nunu tersebut, sekarang berkembang pesat. Pesanan pun datang dari seantero Nusantara maupun luar negeri.
"Ya Alhamdulillah. Meski selama pandemi dan PPKM mengalami penurunan penjualan, produksi bahkan sampai merumahkan pekerja, tapi sekarang sudah berangsur-angsur normal kembali", ujar Nunu saat ditemui wartawan di rumahnya di lingkungan RT 05/RW 01 Kelurahan Ngelo, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah,Senin (29/11/2021).
Berkembangnya produksi batik khas Blora tersebut, tidak lepas dari campur tangan Pertamina EP Field Cepu yang senantiasa memberikan program bantuan Program Pengembangan Masyarakat (PPM), berupa manajemen kelompok, peralatan batik dan IPAL kepada Batik Pratiwi Krajan.

Dengan dibantu puluhan ibu rumah tangga dari warga sekitar Ngelo dan Karangboyo Kecamatan Cepu, rata-rata produksi per bulan sekitar 250-300 kain batik. Dari hasil produksi itu, ibu-ibu pembatik dapat menerima penghasilan tambahan. Mereka hanya memanfaatkan waktu luang selama 4 jam/hari untuk beraktifitas mulai pukul 10.00-14.00 WIB di rumah produksi.
“Di sini kami selalu mengembangkan motif dan desain batik khas Blora seperti jati, kracakan, jendil dan juga potensi minyak dan gas bumi yang digambarkan dengan motif kilang minyak dan pompa angguk”, ujar Nunu.
Dari motif tersebut, Nunu pun sudah mendapatkan sertifikat hak cipta dari Direktur Jenderal Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) sejak 2016 dengan judul “Batik Jatiku”.

“Dari berbagai daerah hingga Kalimantan pesannya ke sini. Mereka dari berbagai kalangan. Ada juga dari anggota partai politik. Bahkan ada juga yang dikirim ke luar negeri seperti Malaysia, Taiwan, Thailand dan Brunei Darussalam,” ungkap Nunu.
Jemput bola dan pemasaran online menjadi strategi pemasaran yang dilakukan Nunu. Salah satunya melalui parade dan bazar Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Pun dengan Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan Dekranasda hingga ke luar Jawa.
“Selain dari penjualan di showroom, kami rutin mengikuti pameran hingga keluar kota Blora seperti Jogja,” tuturnya.
Harga yang ditawarkan untuk selembar kain batik pun beragam dan cukup terjangkau. Mulai dari Rp 150.000,- hingga Rp Rp 1.5 juta/lembar untuk bahan yang terbuat dari kain sutra.

Produksi Batik Pratiwi Krajan terdiri dari batik tulis maupun batik cap (printing) dengan kualitas tinggi. Menggunakan pewarna alam yang berasal dari tumbuh-tumbuhan khas yang hidup di sekitar, dengan sedikit pewarna kimia.
“Ada secang, mahoni, jati, dan tumbuhan lain yang bisa digunakan untuk pewarna alami,” jelasnya.
Dipilihnya pewarna alam oleh Batik Pratiwi Krajan ini karena banyak berpengaruh terhadap pelestarian lingkungan. Mereka menyadari limbah batik dapat menjadi momok polusi air seiring pertumbuhan batik yang cukup pesat.
Untuk menyelamatkan air dari polusi, kelompok Batik Pratiwi Krajan melakukan pemasangan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) bantuan dari Pertamina. Hal itu terbukti menurunkan tingkat pencemaran berdasarkan hasil uji air limbah di Balai Laboratorium kesehatan dan Pengujian Alat Kesehatan Semarang.

Selain aktif dan peduli terhadap lingkungan, Nunu pun lekat dengan siswa-siswi SD Negeri 3 Karangboyo untuk membimbing belajar batik.
Perkembangan Kelompok Batik Pratiwi Krjajan ini mengundang perhatian banyak pihak. Kelompok batik yang berada di klaster Blora banyak yang “berguru” kepada Nunu dan kelompok batik Pratiwi Krajan.
“Di sini kami saling sharing ilmu dan saling bantu dengan desa lain seperti Sumber, Wado, dan Nglebur,” tegasnya.
Namun demikian, Nunu mempunyai secerca harapan untuk membuat showroom batik yang lebih representatif.Karena selama ini, showroom yang digunakan untuk mendisplay batik masih terkesan sederhana.
"Kami berharap kepada Pertamina untuk membuatkan showroom yang lebih representatif sehingga tamu yang datang lebih nyaman jika melihat batik hasil karya orang Cepu yang sudah dikenal baik di Nusantara maupun luar negeri ini, "pungkas Nunu.
Sementara itu perwakilan dari PT Pertamina EP Field Cepu, Achmad Setiadi, Senior Officer Relations & CID Regional 4 Zona 11 bercerita bahwa
Batik pratiwi krajan ini didukung dari tahun 2012. "Diawali dari 5 orang, sehingga saat ini terdapat 23 anggota, kami mendukung pelatihan, peralatan, hingga terakhir pada tahun 2019 kami bantu pembuatan IPAL agar kegiatan ini ramah lingkungan, " ujar Setiadi. (Adv)
(Pewarta : Fajar)








