Anggota DPRD Jawa Timur Agatha Retnosari
Klikwarta.com, Jatim - Pandemi COVID-19 telah berdampak begitu signifikan terhadap industri pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mencatat, sejak Februari 2020, jumlah wisatawan mancanegara yang masuk ke Indonesia mengalami penurunan sangat drastis.
Anggota DPRD Jawa Timur, Agatha Retnosari menyatakan, bahwa belum bisa dipastikan kapan pandemi ini akan benar-benar hilang. Apalagi ada mutasi virus jenis baru. Makanya yang bisa dilakukan saat ini adalah beradaptasi dengan new normal.
"Yang harus kita lakukan ya kita beradaptasi. Misalnya, tetap pakai masker walaupun tidak ada kasus. Sampai kira-kira kita nemu obat yang pas atau vaksin yang pas," kata Agatha.
Berdasarkan data yang dihimpun Agatha juga menyebutkan, bahwa negara yang capaian vaksinasinya tinggi itu tingkat perekonomiannya lebih pasti. Karena, timbulan kasus bisa ditekan dan sistem kesehatan sudah kuat sehingga tingkat kematian tidak tinggi.
"Dengan tingkat kematian tidak tinggi, maka tidak menimbulkan kepanikan. Sehingga warga bisa tetap cari uang dan ekonomi bisa tumbuh lebih pasti," jelasnya.
Politisi PDI Perjuangan ini berpendapat, bahwa untuk meningkatkan sektor pariwisata di Jatim, maka hal yang utama adalah mempercepat pelaksanaan vaksinasi.
"Maka mau tidak mau vaksin lengkap di Jatim harus selesai," tegasnya.
Namun demikian, ia juga mengakui, apabila menyangkut sektor pariwisata, tentu vaksinasi ini tak bisa hanya mengandalkan Provinsi Jatim. Tapi juga wilayah atau provinsi penyangga di sekitarnya.
"Kita tidak bisa hanya mengandalkan Jatim. Karena kalau bilang pariwisata itu ada Jateng, Bali, ada Jakarta. Maka semua daerah-daerah sekitar juga harus sama," jelasnya.
Menurut dia, hal ini sama halnya yang terjadi di Kota Surabaya. Meskipun capaian vaksinasi di Kota Pahlawan tinggi, namun apabila kabupaten/kota atau daerah penyangga masih rendah, maka setiap saat kasus di Surabaya bisa meningkat.
"Sama kayak Surabaya (vaksinasi) tinggi. Tapi, Gresik, Lamongan, Sidoarjo atau Bangkalan, daerah penyangga itu masih rendah. Maka, setiap saat Surabaya harus siap untuk PPKM lagi karena tidak pasti pertumbuhan ekonominya," ujarnya. (Supra)








