Rel kereta api
Kota Bengkulu, Klikwarta.com - Pembangunan jalur rel kereta api yang menghubungkan Pulau Baai, Kota Bengkulu menuju Desa Kota Padang, Kabupaten Rejang Lebong (perbatasan Sumatera Selatan) akan dilanjutkan kembali.
"Rencana pembangunan rel kereta api yang sempat tertunda akan dilanjutkan lagi," kata Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti di Bengkulu, Kamis (16/02/2017), dilansir Antarabengkulu.
Disampaikan Gubernur, pembangunan rel kereta api sepanjang 117 kilometer itu akan dilanjutkan dengan menggunakan tenaga listrik yang dipasok dari pembangkit listrik tenaga uap batu bara di Pulau Baai, Kota Bengkulu. Lanjutnya, pembangunan rel yang sudah digagas sejak 2006 tersebut akan dipercayakan ke pihak ketiga.
"Selain untuk kelancaran transportasi darat, rel ini akan menjadikan Bengkulu sebagai 'outlet' batubara Sumatera Selatan," ucap Gubernur.
Gubernur mengatakan kebutuhan energi menggerakkan mesin kereta api akan dipenuhi dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara dengan daya listrik 2x100 Megawatt (MW) yang sudah dimulai pembangunannya.
Keberadaan fasilitas transportasi tersebut juga untuk mengangkut batu bara dari wilayah Sumatera Selatan menuju Bengkulu.
"Kalau batu bara itu tidak diekspor bisa dibeli untuk kebutuhan bahan baku PLTU batu bara," ujarnya.
Sebagai tindak lanjut rencana pembangunan ini, gubernur meminta dinas teknis terkait untuk segera mengurus perizinan dan syarat lainnya, terutama perizinan dari Kementerian Perhubungan dan Kementerian Kehutanan.
Sementara Direktur PT Trans Rentang Nusantara, Putra Januar selaku calon pengembang jalur kereta api tersebut menjelaskan, rencana pembangunan rel kereta api bertenaga listrik tersebut atas pertimbangan sinergi antara hasil batu bara Sumatera Selatan dengan peluang investasi pengelolaan batu bara sebagai bahan baku pembangkit listrik yang akan dibangun di Bengkulu.
"Kami tertarik membangun jalur kereta ini dengan rencana pembangunan dimulai tahun depan," ucapnya.
Dalam pembangunan rel kereta api itu, pihak manajemen PT Trans Rentang Nusantara Indrajaya menyiapkan investasi sebesar Rp 15 triliun.
"Kami fokus menuntaskan seluruh perizinan tahun ini, kalau tuntas maka pembangunan dimulai awal 2018," katanya.
Lanjutnya, pembangunan rel kereta api tersebut dalam jangka pendek disiapkan untuk angkutan batu bara dari wilayah Sumatera Selatan.
Pembangunan rel kereta api bertenaga listrik tersebut atas pertimbangan sinergi antara hasil batu bara Sumatera Selatan dengan peluang investasi pengelolaan batu bara sebagai bahan baku pembangkit listrik yang akan dibangun di Pelabuhan Pulau Baai, Kota Bengkulu.
Dukungan pemerintah daerah dalam proses perizinan kata Putra sangat penting, terutama dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebab sebagian lintasan rel itu melalui kawasan hutan.
"Pembangunan rel ini juga akan mendorong peningkatan ekonomi daerah," katanya lagi.
Dalam jangka panjang kata dia, rel kereta api tersebut juga akan digunakan sebagai angkutan umum untuk memperlancar transportasi warga. (Js)








