Persatuan Pasca Pemilu, Anak Muda Perlu Turun Tangan

Senin, 15/07/2019 - 20:12
Ilustrasi.net
Ilustrasi.net

Oleh : Gatot Dwiyono)*

Perbedaan memang akan selalu hadir dalam setiap momen demokrasi, baik di tingkat pilkades sampai Pilpres. Meski demikian rasa toleransi haruslah dijaga dan diterapkan untuk saling menghormati orang yang berbeda pilihan.

Jika toleransi ini bisa ditunjukkan, maka masyarakat Indonesia telah menunjukkan kedewasaan sikapnya dalam memilih calon pemimpin secara demokrasi.

Dalam hal ini anak muda tentu memiliki peran dalam ranah politik, salah satunya agar rasa persatuan tetap terjaga pasca polarisasi yang terjadi selama drama Pilpres.

Apalagi Mahkamah Konstitusi telah mengeluarkan putusan yang tidak dapat dibantah, yaitu kemenangan bagi paslon nomor 01 Jokowi-Ma’ruf Amin yang akan memimpin Indonesia selama 5 tahun kedepan.

Namun tetap saja masih terdapat pihak yang tidak bisa bersikap legowo terhadap putusan MK dan KPU, sehingga sikap saling serang argumen masih saja terjadi dengan tujuan saling menjatuhkan.

Keterpecahan kedua kubu tentu tak bisa lepas dari berbagai isu yang dihembuskan, mulai dari Kebangkitan PKI, Indonesia punah hingga permasalahan bahasa Inggris Jokowi yang dinilai medok juga menjadi bahan yang tak habis-habisnya digoreng dan disebarkan secara masif.

Perpecahan kedua kubu ini juga tak lepas dari kubu penantang yang membuat survey versi dirinya sendiri, dimana saat itu Prabowo mengatakan bahwa dirinya dan Sandiaga berada di Posisi 62 persen, namun data dari KPU berkata lain.

Masyarakat juga sempat dibuat geram, ketika ingin mengetahui darimana data diambil, metode apa yang digunakan. Namun pihak BPN tidak menjelaskan sedikitpun terkait teknik survey yang digunakan.

Di sisi lain, Pihak BPN juga masih saja menghembuskan berita provokatif yang melahirkan ketakutan, seperti pernyataan Indonesia Bubar.

Anak muda tentu memiliki peran dalam menjaga persatuan setelah drama pemilu selesai, karena dengan semakin mudahnya akses informasi melalui internet, anak muda yang notabene sebagai pengguna internet terbanyak di Indonesia memiliki peran cukup penting dalam menjaga rasa persatuan pasca pemilu.

Konkritnya, rasa persatuan tidak melahirkan kebencian ataupun permusuhan, mungkin bisa saja sesekali berdebat atau mengucapkan ketidaksetujuan, namun bukan berarti perbedaan pilihan dan keyakinan lantas menjadikan kita sulit bersatu.

Jika kita terlahir sama-sama menghirup udara di Indonesia, lantas mengapa kita bermusuhan hanya karena perbedaan pilihan, lantas mengapa kita meneriakkan takbir yang mengiringi aksi provokasi yang meresahkan banyak pihak?

Anak muda memiliki energi yang tidak terbatas, yaitu kreatifitas, energi tersebut sudah semestinya digunakan secara maksimal dalam mengkampanyekan persatuan yang ada di Indonesia.

Bayangkan saja, kita tahu bahwa suporter Persija dan Persib memang pernah diberitakan saling bermusuhan ketika tim kesayangannya bertemu dalam liga Indonesia, namun ketika Timnas Indonesia bertanding, maka seluruh masyarakat termasuk the jack dan viking akan sama – sama mengenakan seragam garuda tanpa mempertanyakan apakah kamu the jack atau viking.

Salah satu langkah konkrit yang bisa dilakukan adalah, stop menanyakan “kemarin milih siapa?” bergaulah seperti biasanya, yang pasti tetaplah bersikap kritis atas dasar peduli dengan Indonesia, bukan kritis karena terprovokasi oleh berita yang daif kebenarannya.

Anak muda memiliki peran dalam mengakhiri drama pilpres, setidaknya di lingkungan terdekatnya, ajak kembali kawan yang tadinya beda pilihan, traktir ngopi kalau perlu, atau ajak nobar ketika ada pertandingan sepakbola. Keterlibatan banyak orang dalam hoby yang sama tentu akan mendistraksi perbedaan pilihan.

Yang pasti, sadarilah bahwa kubu Jokowi sedang bersiap untuk menggodog kabinet yang akan membantunya dalam periode kedua. Sedangkan kubu Prabowo tengah berusaha legowo atas putusan MK yang tidak mampu menggeser posisi petahana dari kursi kepresidenan.

Anak muda tidak perlu takut akan ancaman-ancaman yang sempat digembar-gemborkan, jika anak muda memiliki kreatifitas, yakinlah mencari uang lebih mudah daripada mencari pekerjaan.

Bersibuk-sibuklah selagi muda, drama politik terkait Pilpres sudah semestinya berakhir dan cukup menjadi catatan sejarah pembelajaran demokrasi.

Tak perlu turun ke jalan hanya untuk ikut-ikutan, menjaga kerukunan dan persatuan dengan sesama masyarakat saja sudah menjadi salah satu cara untuk mengurangi cerita sedih yang ada di Indonesia.

)* Penulis adalah Pegiat Pustaka Institute

a

TMMD

 

Related News