Puluhan Tahun Tak Tersentuh Bangunan dan Atap Disangga Bambu, SDN 1 Tanjung Butuh Pembangunan

Senin, 31/08/2026 - 21:14
Siswa-siswi  SDN 1 Tanjung terpaksa harus belajar dibawah plafon yang nyaris ambrol. Untuk antisipasi, pihak sekolah menyangga dengan bambu.

Siswa-siswi SDN 1 Tanjung terpaksa harus belajar dibawah plafon yang nyaris ambrol. Untuk antisipasi, pihak sekolah menyangga dengan bambu.

Klikwarta.com, Blora - Proses belajar mengajar di SDN 1 Tanjung Kecamatan Kedungtuban, berjalan tidak kondusif. Hal ini disebabkan kondisi fisik bangunan yang cukup memprihatinkan. Selain belajar di ruang sempit, disekat, para siswa juga dibawah ancaman bagian atap yang nyaris ambrol.

“Sebelun tahun 2022,dan ketika saya bertugas di SDN 1 Tanjung jumlah siswa sekitar 67,dan 1 ruang ada yg dskat Krn masih ada yg dbawh 10, ruang kelas dgn luas 6x7m, Sehingga pembelajaran mereka itu sangat tidak kondusif. Gurunya saling bersahutan, sehingga anak-anak tidak konsentrasi belajar,” sejak tahun 2023 sampai sekarang siswa makin bertambah sampe saat ini menjadi 84,sehingga 1 ruang SDH tidak bisa untuk 2 kelas lagi,guru² kami sangat kompeten dan murid2 juga sabgat kompeten sehingga bnyak prestasi yang kami capai ,,ujar Kepala SDN 1 Tanjung, Dewi Retnoningtyas, Senin 31 Agustus 2026, siang.

blora

Menurut Dewi, ukuran rang kelas saat ini, jauh dari kata ideal. Sebab, ukuran ruang kelas seharusnya tujuh kali 8 meter (7m x 8m). Adapun sekolah yang dipimpinnya, memiliki dua gedung. “Gedung A dengan dua ruangan berukuran 7x7 meter, dan Gedung B dengan empat ruangan berukuran 6x7 meter yang dinilai tidak pas untuk pembelajaran,” ungkap Dewi merinci.. 

Saat ini, lanjut dia, kondisi penyekatan semakin parah dengan adanya tiga ruangan yang disekat. Sebanyak dua ruangan untuk kelas dan gudang, serta satu ruangan untuk kelas dan ruang guru. Sehingga membuat suasana belajar menjadi sangat sesak.

Tak hanya sempit, keselamatan para siswa juga terancam oleh kondisi fisik bangunan yang lapuk. Salah satu bagian atap bangunan sekolah kini harus disangga menggunakan bambu agar tidak runtuh, sementara bagian atap lainnya yang sudah hampir runtuh  bahkan belum sempat disangga. Bahkan guru sempat swadaya membuat ruang untuk gudang peralatan olahraga. 

"Ini sama atapnya tadi sudah disangga bambu sudah, yang satunya sudah juga mau jeblok. Itu belum disangga takutnya kondisi anak-anak itu ya mengkhawatirkan sekali,” ujarnya.

Keterbatasan ini juga dirasakan oleh para guru yang tidak memiliki ruang kantor sendiri. Mereka terpaksa berada di kelas masing-masing, sementara ruang tamu terpaksa diletakkan di area luar. Arsip-arsip penting milik guru, kepala sekolah, dan administrasi terpaksa disimpan di dalam sekat khusus di dalam kelas agar tetap aman. 

Melihat kondisi sekolah yang semakin mengkhawatirkan, pihak tidak tinggal diam. Sejak tahun 2022, mereka telah mengajukan usulan anggaran rehabilitasi ke Pemkab Blora. Namun gagal karena keterbatasan lahan dan dana APBD yang belum mampu 

“Karena keterbatasan lahan, kami mengusulkan agar bangunan ditinggikan (naik) Namun, usulan tersebut belum terakomodasi hingga tahun 2025 ikut pengusulan revitalisasi ,namun gagal lagi karena secara data tidak ada lahan ,daerah juga kendala keterbatasan dana APBD. Kami berharap mendapat bantuan revitalisasi atau Banpres,” ungkap Dewi. 

Tahun 2026 ini, pihak sekolah kembali mengajukan usulan rehabilitasi. Masih belum berhasil. Bahkan, telah menyampaikan keluhannya kepada anggota DPRD Blora.  

Pihak sekolah sangat berharap pemerintah segera memberikan perhatian dan merealisasikan bantuan perbaikan gedung dan penambahan gedung baru , agar para siswa dapat belajar aman dan nyaman

Prestasi SDN 1 Tanjung Melimpah 

Meski fasilitas sekolah sangat minim, prestasi para siswa justru sangat gemilang. Pihak sekolah mengaku selalu membawa pulang piala setiap kali mengikuti perlombaan, hingga ruang penyimpanan piala di sekolah tersebut sudah tidak muat lagi. 

Baru-baru ini, prestasi yang berhasil diraih di antaranya adalah juara dua dan tiga dalam kegiatan kemah, serta menyabet Juara 1 Geguritan, Juara 1 Dagel, dan Juara 3 Macapat dalam Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI). 

Selain itu, dalam ajang MAPSI, perwakilan sekolah ini sudah tiga kali maju ke tingkat provinsi mewakili kabupaten untuk cabang kaligrafi.

“Setiap event lomba itu kami selalu dapat piala. sampai tidak uman nggon (sampai tidak ada tempat). Juara satu, dua, tiga, selalu di tiga besar," ungkap Dewi penuh semangat. 

Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan Kabupaten Blora Sandy Tresna Hadi saat dikonfirmasi mengungkapkan, kondisi bangunan SDN 1 Tanjung sangat memprihatinkan.

Bangunan tersebut sudah berumur cukup lama dan dalam 15 tahun terakhir belum tersentuh rehabilitasi, sehingga sangat membutuhkan peremajaan komponen bangunan.

Selain itu, ketersediaan ruangan pun sangat terbatas, di sekolah hanya tersedia 6 ruang yang semuanya sudah digunakan untuk ruang kelas, sedangkan gurunya memanfaatkan selasar sebagai ruang guru. 

"Apalagi perpustakaan dan UKS yg belum tersedia, karena memang keterbatasan lahan. Apabila mendapatkan bantuan, lebih baik, bangunan baru diletakkan di lantai 2, dan lantai 1 nya direhab semua," ujarnya. 

Lebih lanjut Sandy menjelaskan dinas sudah berupaya mengajukan DAK sejak 2022 tapi selalu gagal untuk mendapatkan bantuan. "APBD Blora sangat terbatas, sehingga pihaknya berharap tahun ini bisa mendapatkan bantuan revitalisasi dari Kemendikdasmen," pungkasnya.

Pewarta: Fajar

Berita Terkait