Anggota DPRD Jawa Timur
Klikwarta.com, Surabaya - Warga Surabaya mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Timur membuka sekolah tatap muka. Mengingat sekolah virtual menyedot biaya banyak untuk membeli kuota internet.
Anggota DPRD Jawa Timur daerah pemilihan I (Surabaya), Hadi Dediansyah mengaku dalam serap aspirasi masyarakat di Jalan Sememi Jaya IV, meski Surabaya zona merah, warga menghendaki sekolah tatap muka dimulai lagi. Mengingat masyarakat saat ini sudah memahami aturan protokol kesehatan.
"Harapan masyarakat kepada Pemprov Jatim di situasi pandemi ini karena sudah lama belajar di rumah.
Tetapi tidak meninggalkan protokol kesehatan," kata Dediansyah, Jumat 18 September 2020 malam.
Politisi asal Partai Gerindra itu menjelaskan, untuk dapat menerapkan sosial distancing, murid yang masuk sekolah secara bergiliran dengan membatasi maksimal 50 persen dari jumlah yang ada.
"Misalnya hari Senin, atau Selasa kuota 50 persen. Makanya berharap Pemprov memperhatikan sektor pendidikan di bulan depan. Segera digelar tatap muka," tambahnya.
Pria yang duduk sebagai wakil ketua Komisi A DPRD Jatim itu mengungkapkan dorongan agar sekolah tatap muka dibuka kembali karena Pemerintah tidak bisa menjamin masa berakhirnya pandemi covid-19. Masyarakat terkesan sudah tidak mempercayai akan adanya virus corona. Meskipun ada korban terpapar.
Dediansyah menegaskan, jika sekolah daring terus dibiarkan, ekonomi masyarakat akan terus merosot tajam. Masyarakat harus membeli kuota internet yang harganya mahal.
"Karena terus menelan biaya banyak, akhirnya kehidupan masyarakat semakin terpuruk karena tersedot untuk biaya pendidikan," tuturnya.
Terkait kuota internet gratis dari pemerintah, Dediansyah menilai hanya sebatas janji saja karena saat ini belum ada realisasinya. Dengan begitu, masyarakat mau tidak mau harus membeli kuota internet yang hanya paling murah Rp 100 ribu.
Mirisnya lagi, kuota internet banyak tersedot karena sekolah daring dilakukan setiap hari minimal empat jam. Maka, Pemerintah harus bisa memahami kondisi masyarakat, minimal terangkat ekonominya.
"Kuota internet gratis memang ada statmen-stamennya.Tapi sampai saat ini belum ada realisasinya karena yang dialami masyarakat bahwa pendidikan virtual paket internet tidak murah minimal Rp 100 ribu," terangnya.
Imun masyarakat akan meningkat, jika dibarengi oleh rasa percaya diri dan ketenangan pikiran. Seperti faktor kesehatan, dan ekonomi membaik.
(Pewarta : Supra)








