Safari Literasi Bung Karno tentang Pancasila, Selasa 31 Mei 2022.
Klikwarta.com, Blitar - Sumpah Setia Pancasila pada akhirnya dijadikan prosesi paripurna, ekspresi monumental bangsa terhadap ideologi negara Indonesia, pada acara Safari Literasi Bung Karno tentang Pancasila yang digelar di Amphitheater Perpustakaan Nasional Proklamator Bung Karno Kota Blitar, Selasa (31/5/2022) malam.
Ini merupakan puncak kesepakatan dari diskusi literasi Bung Karno terkait Pancasila atau Lima Azimat itu. Dimana, acara yang diisi oleh pemateri dengan berbagai disiplin ilmu maupun latarbelakang profesi juga diikuti peserta dari organisasi kemahasiswaan, organisasi kepemudaan dan organisasi masyarakat dengan meminta masing-masing perwakilan untuk maju ke muka panggung kemudian acara pengucapan sumpah dipimpin oleh A’yun Latifah Hanum.
Berikut isi Sumpah Setia Pancasila :
Sumpah Setia Pancasila
Kami, Pemuda-Pemudi Bangsa Indonesia dengan ini menyatakan:
Setia kepada Pancasila dan Undang-Undang Negara Republik Indonesia Tahun 1945,
Menjaga ketahanan dan keutuhan Pancasila sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara;
Mengamalkan nilai-nilai Pancasila demi terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Seusai pengucapan sumpah, beberapa peserta membubarkan diri. Sebagian lagi memilih bertahan, membicarakan hal-hal lain di luar kegiatan yang baru saja mereka selesaikan tanpa menyadari bahwa Sumpah Setia Pancasila yang baru saja mereka kumandangkan adalah pertama kali dilakukan di Indonesia dan merupakan sebuah sejarah.
Kegiatan ini bisa dikatakan acara puncak dari dua serial diskusi sebelumnya dengan tema Safari Literasi Bung Karno Tentang Pancasila.
Sebagai aggregator acara, Demy Allam Sahati yang merupakan representasi dari Pusat Studi Bung Karno, memberi kesempatan pertama kepada Fajar SH, Ketua komunitas Pegiat Literasi Blitar (PLB) sekaligus pengasuh portal media boeng.co yang menjelaskan konsep dasar media komunikasi dan informasi serta pentingnya peran media dalam ekosistem literasi.
Berikutnya dilanjutkan oleh Alfareza Firdaus, seorang mahasiswa akhir Universitas Negeri Jember yang mewakili civitas akademis yang menjelaskan tentang Tri Dharma Perguruan Tinggi berikut contoh kegiatan yang telah ia implementasikan dan juga, menurutnya, bagaimana perguruan tinggi yang merupakan episentrum intelektual harus menjadi pendorong sekaligus pemasok pemimpin muda yang berkualitas demi terwujudnya perubahan yang lebih baik.
Yang tak kalah menarik ketika tiba giliran Yoppy Tirta berbicara dalam kapasitasnya sebagai pengusaha yang mengaitkan tema diskusi dengan Tri Sakti Bung Karno, bahwa untuk bisa berdaulat di bidang politik, hal pertama yang harus dilakukan adalah berdikari dalam bidang ekonomi dengan memanfaatkan kebudayaan dan potensi alam sekitar.
Terakhir adalah Deny F. Suhartata, seorang tokoh muda penggagas Blitar Institute yang memberikan pandangannya tentang pentingnya kolaborasi antar komunitas dengan membudayakan kegiatan diskusi di berbagai tempat dengan basis literasi. Setelah itu, sesi tanya jawab dibuka.
Acara yang dimulai pada pukul 19.00 WIB itu tak terasa berjalan begitu cepat. Kota Blitar dirundung gerimis, tapi tidak menghalangi lompatan pemikiran dan narasi-narasi kebangsaan yang memenuhi selama kegiatan diskusi hingga forum sampai pada sebuah kemufakatan bahwa konsep hexa-helix, atau saling bersinerginya dan terkoneksinya pemerintah, swasta, komunitas, media, akademisi, dan aggregator dalam membentuk ekosistem kebangsaan adalah cara untuk cita-cita bangsa.
Penulis : Igi Moyan (Aktivis Ideologi Pancasila)








