Pergelaran wayang kulit dengan lakon Sesaji Raja Suya, di kediaman Ketua DPRD Jawa Tengah, Sumanto, di Desa Suruh, Tasikmadu, Karanganyar, pada Jumat (20/2/2026)
Klikwarta.com, Karanganyar - Malam di Desa Suruh, Tasikmadu, Karanganyar hanyut oleh alunan gamelan. Di kediaman Ketua DPRD Jawa Tengah, Sumanto, Jumat (20/2/2026) malam, layar putih (kelir) membentang bukan sekadar untuk tontonan, melainkan untuk menuturkan sebuah epos besar tentang kedaulatan dan pengorbanan lewat pergelaran wayang kulit dengan lakon Sesaji Raja Suya.
Dibawakan secara kolaboratif oleh Ki Sulardiyanto Pringgo Carito dan Ki Muhammad Ivan Rahadi dari Paguyuban Dalang Karanganyar (PDK), pergelaran ini menyedot perhatian warga dan tokoh seni seperti Ketua KBSN Jawa Tengah, Agus Wariyanto, dan KGPH Benowo, adik mendiang PB XIII yang juga dalang kondang pendiri Paguyuban Dhalang Surakarta (Padhasuka).
Lakon Sesaji Raja Suya membawa penonton ke masa keemasan Amarta. Prabu Puntadewa (Yudistira), sosok raja berdarah putih yang dikenal suci, berencana menggelar upacara agung sebagai tanda syukur atas berdirinya kerajaan Indraprasta yang makmur. Namun, jalan menuju harmoni tidak pernah sederhana.
Di balik niat suci itu, bayang-bayang kelam muncul dari Kerajaan Magada. Raja Jarasanda, sang antagonis yang haus kuasa, berusaha menggagalkan upacara tersebut dengan cara yang keji. Ia menyekap ratusan raja dari berbagai penjuru negeri untuk dijadikan tumbal bagi ritual hitamnya, Sesaji Kalalodra.
Konflik memuncak saat strategi diplomasi harus bersanding dengan kekuatan fisik. Atas saran bijak Prabu Kresna, sang titisan Wisnu, dikirimlah Werkudara (Bima) untuk menumbangkan tirani Jarasanda. Pertarungan ini bukan sekadar adu kesaktian, melainkan simbol pembersihan penghalang kebaikan sebelum menuju tatanan negara yang ideal.
Kematian Jarasanda di tangan Werkudara menjadi titik balik. Raja-raja yang disekap dibebaskan, dan mereka dengan sukarela hadir di Amarta untuk mengakui kedaulatan Puntadewa.
Lakon ini bukan sekadar dongeng. Ia adalah potret kegigihan Pandawa dalam membangun negara yang tentram, di mana pemimpinnya harus adil dan mampu menyingkirkan angkara murka.
Meski dibungkus dalam agenda sosialisasi kebijakan melalui media tradisional, esensi dari lakon ini tetap terjaga. Dalam filosofi Jawa, Sesaji Raja Suya sering dimaknai sebagai upaya menjaga keselarasan hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Melalui sabetan wayang Ki Sulardiyanto dan Ki Muhammad Ivan, pesan moral itu tersampaikan dengan lugas bahwa kepemimpinan yang adil memerlukan pengorbanan, dan kemakmuran rakyat hanya bisa dicapai jika keserakahan (simbol Jarasanda) berhasil ditumpas.
Tidak sekadar tontonan, lakon Sesaji Raja Suya adalah sebuah perenungan kembali tentang bagaimana sebuah tatanan negara baik Amarta maupun masa kini harus diperjuangkan dengan hati yang bersih dan tekad yang kuat.
Di sela-sela acara, Ketua DPRD Jawa Tengah, Sumanto, menyampaikan apresiasi kepada Paguyuban Dalang Karanganyar atas dedikasi dalam menjaga eksistensi pergelaran wayang kulit. Menurutnya, di tengah gempuran arus modernisasi dan disrupsi digital, para dalang di Karanganyar bukan sekadar penanggap seni, melainkan penjaga moral dan jati diri bangsa.
"Wayang kulit bukan hanya tontonan, tapi tuntunan hidup yang mengandung nilai-nilai filosofis mendalam tentang etika dan keadilan," ungkapnya.
Dia menegaskan, konsistensi Paguyuban Dalang Karanganyar dalam menggaungkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap lakon yang dipentaskan, adalah bukti nyata bahwa kesenian wayang kulit tetap hidup dan relevan.
"Kami di legislatif akan terus mendukung upaya pelestarian ini, agar wayang kulit tetap menjadi identitas yang membanggakan bagi warga Karanganyar dan Jawa Tengah pada umumnya," tandas Sumanto.
Pewarta : Kacuk Legowo








