Pendiam, tapi Jago Public Speaking?

Kamis, 06/07/2023 - 07:59
ilustrasi

ilustrasi

Oleh: Pika Piqhaniah/Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan Politeknik Negeri Jakarta

Di dalam sebuah ruangan besar yang dipenuhi oleh banyak manusia, seorang anak perempuan berdiri di atas mimbar. Ia menghadap ke arah banyaknya pasang mata yang siap menatapnya. Ruangan itu dipenuhi oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Tentu saja, kursi barisan depan ditempati oleh para jajaran tinggi yang berpakaian rapi dan berdasi. Anak perempuan itu menatap nanar pemandangan di hadapannya dengan perasaan gugup.

Pemandangan itu membuat tubuhnya gemetar saat hendak membuka mulut dan mulai berbicara. Hal tersebut sering dirasakan oleh sebagian orang yang akan mulai berbicara di depan banyak orang dan memiliki karakter pendiam, seperti Dwian.

Dwian adalah anak yang dikenal memiliki kepribadian yang tertutup. Ia sering dijuluki anak pendiam karena jarang sekali berbicara saat bersama teman-temannya. Namun, saat berada di kelas dan dalam proses pembelajaran, ia dikenal sebagai anak yang aktif mengutarakan pendapat. Bahkan saat mendapat tugas presentasi pun ia dikenal sebagai anak yang jago public speaking. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan, mengapa anak pendiam seperti Dwian mampu berbicara lancar di depan banyak orang?

Public speaking berasal dari bahasa inggris yang diartikan sebagai berbicara di depan umum. Istilah ini juga memiliki banyak pengertian lain seperti seni dalam berbicara, seni saat berpidato dan berbicara di hadapan publik. Sebenarnya, setiap orang mampu melakukan public speaking. Namun, tidak semua orang bisa menerapkan seni atau retorika dalam berbicara di hadapan publik.

Orang pendiam sendiri memiliki beberapa keunggulan yang tidak banyak diketahui oleh banyak orang, di antaranya adalah mampu berpikir lebih dalam saat hendak berbicara. Maka dari itu, tidak heran jika ada orang pendiam seperti Dwian yang mampu berbicara di depan umum dengan lancar dan pembahasannya pun mudah dimengerti orang lain. Selain itu, orang pendiam adalah orang yang bersikap analitis dan mampu menjadi pendengar yang baik sehingga orang pendiam mampu menangkap hal dengan logis dan menyampaikannya kembali dengan lugas.

Dwian yang terkenal sebagai orang pendiam justru mendapatkan julukan sebagai anak anti sosial. Padahal, kenyataannya tidak. Faktanya, ia bisa berbicara lancar saat menyampaikan pidato di acara perpisahan sekolahnya. Selain itu, ia juga bisa menyampaikan materi dengan baik saat presentasi. Bahkan saat terjadi sesi tanya jawab yang mengharuskan Dwian untuk berinteraksi dengan orang lain, ia begitu terbuka dan mampu menjawab setiap pertanyaan dengan jelas.

Sebenarnya orang pendiam memiliki modal yang baik untuk melakukan public speaking. Buktinya, Dwian mampu melakukan public speaking dengan tertata. Dengan kemampuan analitisnya, ia mampu memperdalam suatu masalah dan menyusunnya sebagai bahan pembicaraan yang akan disampaikannya nanti. Selain itu, Dwian sebagai anak pendiam mampu mengingat sesuatu dengan baik dan memiliki kehati-hatian yang tinggi dalam berbicara.

Diamnya Dwian bukan karena ia tak mampu bersosialisasi. Namun, sebagai anak pendiam, ia hanya akan berbicara saat diperlukan saja. Terutama mengenai hal-hal yang menurutnya bisa didiskusikan dengan pengetahuan yang dimilikinya. Menjadi seorang anak pendiam yang jago public speaking, tentunya tidak mudah bagi Dwian. Rasa gugup dan khawatir saat akan memulai pembicaraan sering pula ia rasakan.

Public speaking bisa dilakukan oleh siapa saja, kuncinya adalah mau berlatih dengan sungguh-sungguh. Dalam public speaking bukan hanya isi pembahasannya saja yang diperhatikan, tetapi cara penyampaian dan retorika dalam berbicara juga menjadi penilaian jago atau tidaknya seseorang dalam melakukan public speaking, seperti yang dialami oleh Dwian.

Dwian mematahkan pendapat orang lain tentang dirinya bahwa anak pendiam akan terus diam dan cenderung menolak untuk mengutarakan pendapat ataupun perasaan. Menurutnya, orang yang diam bukan berarti mereka tidak mengerti dengan apa yang disampaikan orang lain. Justru dengan diam, ia mampu menelaah lebih dalam lagi mengenai apa yang harus disampaikannya sebagai tanggapan.

Riuh tepuk tangan memenuhi seluruh sudut ruangan. Dwian yang sudah menutup pembicaraannya di atas mimbar itu menundukkan kepala sebagai tanda hormat kepada para pendengar. Ia bersyukur telah mampu menghilangkan rasa gugupnya dan mulai berbicara dengan lancar. Sejak saat itu, ia berpikir bahwa pada akhirnya public speaking tidak hanya bisa dilakukan oleh orang yang suka bicara. Dwian yang banyak berdiam diri juga mampu melakukannya dengan penuh percaya diri.

Tags

Berita Terkait