(Ilustrasi pasangan beradu argumen. Sumber : freepik.com)
Klikwarta.com - Cinta adalah kata kerja. Untuknya, membutuhkan dua orang atau lebih untuk ada di dalamnya. Cinta tak ubahnya kereta dengan dua gerbong di belakangnya yang bernama kebahagiaan dan kesedihan.
Keduanya tidak terpisahkan dengan kata cinta itu sendiri. Sebagaimana sifat dari kata cinta itu sendiri, sudah seharusnya kebahagianlah yang mendominasi. Jika sebaliknya dan bahkan berkepanjangan itu bisa dikatakan toxic relationship.
Rofifah Hanna adalah salah satu dari sekian banyak orang yang pernah terjebak di dalam toxic relationship. Hubungan dengan kekasihnya saat itu tidak berjalan baik, bahkan berkepanjangan. Perempuan yang kerap disapa Ipeh ini jatuh hati kepada laki-laki yang berwatak keras dan suka mengontrol. Tidak jarang Ipeh selalu mengalah dan terintimidasi.
Bagi kebanyakan orang, mungkin sedikit aneh jika melihat seseorang yang sedang menjalin hubungan tetapi harus terintimidasi di dalam hubungan tersebut. Oleh karena itu, kata yang tepat adalah 'terjebak'. "Awalnya aku bahagia banget sama dia. Dia ngasih aku segalanya. Hal itu seakan membuat dunia kecil yang hanya aku dengan dia di dalamnya. Tetapi semakin jauh hubungan ini berjalan, dia seperti merasa menguasai dan mengontrol aku, dan aku tidak bisa tidak bisa keluar dan pergi dari dunia ini. Aku selalu merasa bahwa tidak ada kebahagiaan selain bersama dia" ucap Ipeh saat ditemui di kediamannya.
Lebih lanjut Ipeh menceritakan hal buruk yang ia dapatkan dari kekasihnya. Mulai dari abusive, sampai menerima kata-kata kotor sering ia terima, bahkan tidak jarang hal itu ia dapatkan di depan umum. Manipulatif adalah sifat yang sering kali beriringan dengan seseorang yang abusive, memohon dan membuat orang lain percaya seakan tidak pernah terulang kembali.
"Saat itu, banyak teman yang memang tahu dan beranggapan bahwa hubungan aku sama dia tidak sehat. Tetapi saat itu aku denial dengan semuanya, yang aku percaya hanyalah dia, karena hubungan itu, aku dan dia yang menjalaninya. Tidak jarang aku juga merasa bahwa sikap dia kepadaku sudah melewati batas, tetapi dengan belas kasih dan permohonan maaf darinya membuat aku menjadi kembali mempercayainnya" ujar Ipeh.
Ipeh juga menambahkan bahwa saat dia menjalin hubungan dengan kekasihnya saat itu, ia seakan menutup diri dari dunia yang luas. Hal itulah yang membuat mental dari Ipeh jatuh ke palung terdalam terlebih saat ia mendapatkan hal yang buruk dari orang yang ia cintai.
Saat ditanya bagaimana Ipeh bisa keluar dari lingkaran toxic relationship, ia mengaku hal itu terjadi karena bantuan dari teman-teman terdekatnya. "Aku dibantuin pelan-pelan sama teman-temanku, aku dikasih tau dunia luar yang sebelumnya aku gatau, bahkan aku dikasih bahagia yang dahulu aku percaya gaada, yaitu kebahagiaan yang datang bukan selain dari pasanganku waktu itu, sampai pada akhirnya aku dengan lega meninggalkan hubungan itu" ujar mahasiswi asal Depok ini.
Satu hal yang bisa dipetik dari pengalaman Ipeh adalah cinta dengan segala bentuknya itu tidak pernah salah, yang salah adalah menyakiti diri sendiri, walaupun cinta salah satu sebabnya. Cintai diri kamu lebih dari mencintai orang lain. Jika ingin membagi kebahagiaan, kamu harus bahagia terlebih dahulu.
(Diaz Salwa Fadhila/Politeknik Negeri Jakarta)








