Prodi Tadris Bahasa Indonesia IAIN Bengkulu Adakan Pementasan Drama Teater

Pementasan Drama Teater Prodi Tadris Bahasa Indonesia IAIN Bengkulu
Pementasan Drama Teater Prodi Tadris Bahasa Indonesia IAIN Bengkulu

Klikwarta.com - Prodi Tadris Bahasa Indonesia IAIN Bengkulu menampilkan pentas drama teater di bawah bimbingan Andriandi Andri, Dosen Sastra IAIN.

Menampilkan 4 kelompok drama, para lakon drama membius 300 penonton yang hadir.

B

Dari beberapa kisah, drama ujian praktek mahasiswa semester 3 ini menampilkan kontrol sosial dengan narasi humoris.

Ditampilkan, drama 'Selamat Tinggal Anak Kufur' bercerita tentang kaum wanita yang terjajah oleh keadaanya setelah dipersunting dan menjalani keluarga. Atas kekuasaan lelaki yang sewenang-wenang, kemudian Titi (tokoh utama) berprofesi sebagai seorang 'cabol'/perempuan tunawisma dan menjajakan diri kepada semua pria hidung belang. Atas kemauannya tersebut, Titi berkeinginan mampu menguasai pikiran lelaki yang menidurinya dan setelah ia mendapat uang hasil prostitusi diharapkannya dapat  mengubah tatanan pola pikir lelaki agar tak bisa seenaknya dan memperlakukan wanita secara lebih mulia lagi setelah ia kaya. 

Andriadi mengatakan persiapan teori dilakukan selama dua bulan dengan persiapan akhir pementasan selama dua bulan juga. "Semuanya kami persiapkan secara matang dan mengalir. Adapun Jurusan Tadris Bahasa Indonesia IAIN ini sudah melalui angkatan yang kedua dalam pementasan," katanya.

Selain itu 4 pementasan Drama lainnya juga akan dipentaskan selama 2 hari kedepan. Adapun judul dramanya sendiri yaitu;

1. Selamat Jalan Anak Kufur, Selasa 08 Januari

2.  Senja Dengan 2 Kelelawar, Kamis 10 Januari

3.  Gempa, 16 Januari

4. Awan dan Mira, 15 januari.

Andri juga turun berpesan, bagaimana saat ini sastra harus dikembangkan melalui karya yang berkualitas, bukan justru laku di mata masyarakat, "Sastra yang laku di masyarakat jutru akan mengurangi kualitas dan kuantitas sastranya sehingga menjadi tidak berbobot. Jika mau belajar sastra yang berkualitas itu, silahkan pelajari dan baca karya-karya dari para pendahulu kita. Misal, Seno Gumira, Supardi Joko Damono, Dewi Lestari. Di situlah kita akan lebih tau karakteristik sastra antar pengarangnya," pesannya.

Menurutnya, tidak penting mengikuti arus zaman dan menciptakan karya yang laku di masyarakat, dimana komposisi kesusastraannya tidak sesuai aturan dan kaidah sastra. (Bisri) 

Related News