Rumah Khalwat Balai Budaya Rejosari Angkat Kisah Santo Yusuf Lewat Karya Drama Musikal Sinematik 'Kasih Ayah'

Minggu, 13/06/2021 - 13:32
Acara jumpa pers penggarapan karya Drama Musikalisasi Yusuf Kasih Ayah

Acara jumpa pers penggarapan karya Drama Musikalisasi Yusuf Kasih Ayah

Klikwarta.com, Solo - Lewat karya drama musikal sinematik, Rumah Khalwat Balai Budaya Rejosari (RKBBR) mengangkat kisah Santo Yusuf berjudul "Kasih Ayah". Sebagai sebuah persembahan karya rohani, "Kasih Ayah" diangkat menjadi sebuah judul pertunjukan drama musikal sinematik dengan Santo Yusuf sebagai tokoh sentral sekaligus sosok 
inspiratif bagi umat Katolik. 

“Yusuf adalah salah satu sosok kunci tergenapinya nubuat nabi-nabi sekaligus juga salah satu tokoh kunci terlaksananya kehendak Allah untuk menyelamatkan umat manusia. Dan ini semakin menarik karena dengan peranannya yang begitu besar namun amat sedikit pembicaraan tentang Yusuf,” terang penulis naskah dan sutradara “Kasih Ayah”, Asa Jatmiko kepada wartawan saat menggelar jumpa pers, di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Kecamatan Jebres, Kota Solo pada Sabtu (12/06/2021) siang.

Drama musikal sinematik ini akan mulai tayang perdana pada 14 – 15 Juli 2021 di kanal youtube Balai Budaya Rejosari Official. “Kasih Ayah” ingin menggambarkan kasih yang hidup. Kasih yang tidak hanya disandarkan kepada faktor kedekatan personal, ayah dan anak, namun ditumbuh suburkan oleh firman dan kehendak Allah. Kasih yang dilambari 
kepercayaan dan ketaatan penuh kepada Allah.

Terlebih dengan konsep yang terbilang baru, imbuh Asa Jatmiko, “Kasih Ayah” ini tidak ingin menghilangkan pertunjukan panggung, namun 
sekaligus menghadirkan pendekatan sinematik.

"Maka para pemain dan kru, dibawa ke dalam pola latihan yang penuh kasih sebagaimana Yusuf mendidik Yesus, anaknya. Nuansa teatrikal harus muncul, namun sentuhan perasaan yang halus juga harus bisa dirasakan," sambungnya.

Drama musikal sinematik “Kasih Ayah” dimainkan oleh aktor Cornel Innos dan Bernadette Renata, juga melibatkan para frater, diakon dan imam dari Konggregasi MSF dan puluhan seniman dari berbagai kota. Yogi Swara Manitis Aji dipercaya sebagai asisten sutradara, setting artistik yang filmis digarap oleh Blendang Blendung Studio dari Yogyakarta, pimpinan Greg Susanto. Sementara pencipta lagu-lagu dan komposer oleh Romo Lukas Heri Purnawan MSF dan Ninin Widhiyanto, dan tata lampu oleh Jagat Tuwuh Pramono Aji.

Berlatar belakang era kehidupan Yusuf (1 Masehi), proses pengambilan gambar berlokasi di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah selama 9 hingga 13 Juni 2021, dimana tim akan membangun panggung sebagi visualisasi lingkungan saat itu. Yang juga menarik, tim pun menghadirkan binatang sungguhan, yakni keledai maupun binatang lainnya yang sengaja dihadirkan dari Gembira Loka Zoo, Yogyakarta.

“Drama Musikal Santo Yusuf selain bertujuan untuk mengisi tahun Yusuf yang ditetapkan oleh Paus Fransiskus mulai 08 Desember 2020 - 08 Desember 2021 juga sebagai usaha penggalangan dana untuk membangun rumah hening atau Rumah Khalwat di RKBBR,” ungkap Irianto Gunawan selaku produser.

Irianto Gunawan menambahkan, sebagai ruang berkesenian RKBBR merasa perlu turut menyumbangkan karya seni drama untuk memperkaya media pewartaan. Tokoh Santo Yusuf sendiri merupakan sosok yang menantang untuk divisualisasikan sebab minimnya data yang bisa menggambarkan sosok Santo Yusuf secara tepat.

Sementara itu, Ketua Pengelola RKBBR, Romo Lukas Heri Purnawan MSF mengatakan, untuk mendukung penggambaran tokoh Yusuf, maka keutamaan St. Yusuf digali berbagai sumber salah satunya adalah surat apostolik terbaru Paus Fransiskus Patris Corde yang dikeluarkan untuk menyambut 150 Tahun pemakluman St. Yusuf sebagai pelindung Gereja Katolik oleh Paus Pius IX pada 08 Desember 1870. 

"Patris Corde (Dengan Hati Seorang Bapa) menyampaikan refleksi Bapa Paus Fransiskus mengenai keutamaan yang terdapat dari St. Yusuf untuk diteladani orang jaman ini terlebih saat menghadapi masa pandemi ini. Juga melalui seminar 
yang mengupas St. Yusuf memperkaya wawasan tokoh St. Yusuf ini hingga tercipta Drama Musikal St. Yusuf yang bertema Kasih Ayah,” ungkapnya.

Wakil Ketua Pengelola RKBBR, Romo Stephanus Nyaris Prasetyo MSF menambahkan, "Dalam Diam Kau Berkarya" sebagaimana yang dihayati Yusuf, yang kemudian dijadikan tag-line drama musikal ini juga menjadi semangat RKBBR untuk terus berani mewujudkan visi misinya menjadi rumah anak bangsa.

"Sebagaimana St Yusuf yang terus berkarya dalam setiap tantangan yang ada, RKBBR juga akan terus berkarya menghadapi tantangan yang ada untuk menjadi rumah anak bangsa. Seperti halnya proses produksi ini yang melibatkan bukan hanya orang katolik saja tetapi juga yang non katolik,” kata Romo Stephanus Nyaris Prasetyo.

Drama Musikal St Yusuf ini merupakan prakarsa dari tim pengurus RKBBR yang berada di kota Kudus. Salah satu konsen kegiatan RKBBR adalah dialog budaya. Prakarsa awal RKBBR diawali  dari ide sekaligus harapan dari Kardinal Mgr.

Suharyo yang saat itu masih menjadi Uskup Keuskupan Agung Semarang untuk membuat suatu karya pastoral yang khas pantura. Dari harapan Mgr. Suharyo itulah kemudian terwujud RKBBR yang mulai dirintis mulai tahun 2010 hingga sekarang ini. 

Wilayah pantura keuskupan dalam pelayanan pastoral dipercayakan kepada tarekat/kongregasi MSF yang meliputi Pati Kudus, Jepara, Purwodadi dan Gubug. Sehingga dalam pengelolaannya, RKBBR sebagai milik keuskupan agung Semarang namun pengelolaannya diserahkan sepenuhnya kepada tarekat MSF provinsi Jawa. Sedangkan Balai budaya di Rejosari dibangun sebagai ruang publik yang terbuka bagi siapapun yang berkehendak baik yang mencintai kebudayaan dan mengembangkannya. Inilah ruang publik untuk ndudhug, ndudhah lan ndandani kabudayan.

Dukungan dan apresiasi atas diadakannya pertunjukan Drama Musikal “Kasih Ayah” ini juga diberikan oleh Mgr Robertus Rubyatmoko, Uskup Keuskupan Agung Semarang.

“Saya sangat mengapresiasi diadakannya pertunjukan Drama Musikal “Kasih Ayah” ini. Kita akan diajak untuk belajar dari Yusuf mencintai Tuhan Yesus, dengan merenungkan bagaimana Yusuf memiliki jiwa yang momong, ngemong, dan juga memiliki jiwa mbopong, dengan ikut terlibat dalam pendampingan dan mengasuh Gusti Yesus," ucapnya.

Mgr. Ruby, sapaan akrabnya, juga sangat menghargai upaya-upaya peningkatan kegiatan dan pelayanan melalui seni budaya di RKBBR. Terlebih dengan akan direalisasikannya pembangunan Rumah Khalwat yang akan digunakan sebagai ruang pembinaan yang dapat dipergunakan oleh lintas iman di seluruh Indonesia.

Sementara itu Yohanes Susilo Tri Raharjo, aktor yang ikut bermain dalam “Kasih Ayah” dan salah satu pengurus RKBBR mengatakan, RKBBR ini juga menjadi ruang terbuka bagi mereka yang haus mencari makna kehidupan dalam keheningan dan melestarikan keutuhan kehidupan. Kini kehadiran balai seperti ini kami pandang signifikan mengingat ruang publik semakin sedikit, ruang eksplorasi kebudayaan dikomersialisasikan dan banyak komunitas seni kesulitan ruang 
pagelaran.”

Ia menambahkan, sejalan dengan visi dan misi RKBBR, maka RKBBR berupaya untuk dapat menjadi rumah bersama bagi semua agama dan golongan. Nilai keanekaragaman agama dan budaya di wilayah Pantura terus dilestarikan dan dikembangkan RKBBR yang dijalankan lewat dialog budaya, ekonomi dan agama. 

"Oleh karena itu, RKBBR menjadi tempat untuk memelihara hidup bersama dalam perbedaan budaya dan agama. Pendek kata cita-cita dari RKBBR adalah menjadi rumah yang inklusif, yang terbuka untuk semua orang untuk sebuah persaudaraan sejati dalam srawung. Untuk mewujudkan harapan itu, RKBBR masih perlu menyediakan 
tempat yang representatif untuk menjadi tempat perjumpaan persaudaraan tersebut. Dalam kompleks RKBBR sudah ada joglo tempat latihan gamelan, tari atau wayang kulit yang telah digunakan masyarakat umum berlatih seni budaya," jelasnya.

Di samping itu, RKBBR telah menggagas program retret budaya bagi anak-anak yang bertujuan untuk melakukan pembinaan dan membangun anak-anak penerus bangsa menimba nilai-nilai luhur hidup bersama melalui seni dan budaya setempat. Untuk keperluan itulah rumah khalwat dirasa perlu segera direalisasikan keberadaannya di RKBBR agar program retret budaya itu dapat segera terlaksana. 

(Pewarta : Kacuk Legowo)

Berita Terkait