Sumber : Berbol.co.id
Oleh: Adelia Damayanti (Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta)
Jakarta, jantung Ibu Kota yang penuh akan kehiruk pikukan dunia. Jauh dari sebelum itu, Jakarta juga memiliki kebudayaan yang sangat kental dan kerap dirayakan pada hari besarnya. Seperti halnya Pekan Raya Jakarta yang diadakan sejak awal bulan Juni dan biasanya hingga satu bulan penuh. Pekan Raya Jakarta diadakan sebagaimana merayakan hari jadi kota Jakarta, yang mana kota kelahiranku.
Pekan Raya Jakarta diadakan sejak tahun 1968 hingga saat ini, banyak sekali kegiatan yang diadakan disana, mulai dari pameran berbagai jenis makanan, permainan anak, pertunjukan musik dan juga yang pastinya pertunjukan budaya. Jakarta terkenal akan kebudayaannya yang masih kental, mulai dari ondel-ondel yang kini sudah banyak tersebar di seluruh penjuru kota Jakarta, makanan-makanan khas Betawi yang juga sudah banyak dijual kembali.
Tidak hanya itu Jakarta atau bisa disebut Betawi juga memiliki banyak sekali ragam budaya yang saat ini masih dijalankan untuk dilestarikan agar supaya kebudayaan Betawi tidak luntur dimakan waktu. Salah satunya Tari Betawi yang biasa dibawakan saat pesta adat. Aku sebagaimana orang Betawi yang juga lahir dari tanah Betawi memiliki peranan yang menurutku wajib adanya untuk turut serta untuk melestarikan kebudayaan ini.
Sejak duduk dibangku kelas 4 SD, mamahku mulai memasuki ku ke sanggar tari Setu Babakan dengan alasan pada saat itu aku tidak bisa memiliki waktu yang kosong, jika kosong aku akan merasa bosan karena tidak memiliki teman di rumah seperti anak kecil pada umumnya. Pada saat itu aku merasa sedikit tertekan karena menyesuaikan lingkungan dan mempelajari tarian dari nol itu adalah titik kesulitan yang paling sulit.
Hingga akhirnya waktu berjalan aku menemukan jati diri saat menari. Bagiku menari bukan hanya sekedar passion, melainkan jiwa yang sudah melekat. Hanya dengan menari aku bisa mengekspresikan emosi, sedih atau rasa bahagia yang saat itu aku rasakan. Dari menari aku bisa mengenal banyak relasi para seniman hebat di dunia. Dari yang pencipta tariannya, pencipta musik tariannya, bahkan cucu dari seniman Betawi yang sangat melekat karya-karyanya pada saat di dunia adalah guru tari ku hingga saat ini.
Aku mulai merasakan mendapatkan uang dari hasil jerih payahku sendiri dari menari. Berawal diajak oleh guru tari ku untuk mengisi acara-acara seperti ulang tahun kota Depok atauh bahkan mengisi acara di Pekan Raya Jakarta pada waktu itu, peluangku mejadi lebih besar hingga akhirnya banyak yang mengajak ku untuk mengisi acara.
Bayarannya tidak seberapa memang, namun rasa bahagia dari perasaan bangga yang tidak bisa dijelaskan menjadi kekuatan paling besar yang membuatku hingga saat ini bertahan dan akan terus menari hingga jiwa ini sudah tak sanggup berdiri.








