Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq
Klikwarta.com, Jakarta - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berkomitmen penuh mewujudkan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan inklusif bagi seluruh peserta didik baru. Guna memastikan pemenuhan hak anak tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, meninjau langsung pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah 2026 di SMA Labschool Kebayoran, Jakarta Selatan, Senin (13/7).
Kunjungan ini bertujuan untuk memastikan implementasi regulasi berjalan optimal di lapangan, sekaligus menyapa sekitar 290 murid baru yang tengah menjalani transisi menuju jenjang pendidikan menengah atas. Langkah proaktif ini diambil sebagai bagian dari gerakan mengarusutamakan model Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) yang kini tengah digalakkan oleh kementerian secara menyeluruh demi memastikan kehadiran negara di setiap lini satuan pendidikan.
Dalam arahannya di hadapan ratusan murid baru, Wamendikdasmen menekankan pentingnya membangun ekosistem pembelajaran yang tidak sekadar formal, melainkan mampu merangkul murid seperti layaknya rumah kedua bagi mereka. Fajar mengingatkan bahwa pembiasaan positif di sekolah akan menjadi pondasi utama yang menentukan keberlanjutan masa depan para pelajar.
”Kita tekankan bahwa sekolah itu harus menjadi rumah kedua buat anak-anak kita. Karena kan prinsip dasarnya bagaimana sekolah itu menjadi ekosistem pembelajaran yang ramah, inklusif, dan juga mendorong pertumbuhan anak secara alamiah,” ujar Fajar.
Selain aspek kenyamanan, Fajar mengapresiasi konsistensi sekolah dalam membangun kapasitas kepemimpinan bagi para murid sejak awal masuk sekolah. Menurutnya, pembentukan karakter pemimpin yang berlandaskan nilai Pancasila dan berdaya saing global di sekolah ini patut menjadi contoh baik bagi instansi pendidikan lainnya.
Merespons apresiasi kementerian, Kepala SMA Labschool Kebayoran, Suparno, menjelaskan bahwa masa pengenalan yang berlangsung selama lima hari sejak pra-MPLS pada Jumat, 10 Juli 2026, hingga Jumat, 17 Juli 2026, memang didesain untuk mengintegrasikan penguatan karakter kebangsaan dan ketakwaan murid. Pihak sekolah menyusun kurikulum orientasi yang tidak hanya mengenalkan lingkungan sekolah, sarana dan prasarana, warga sekolah, tapi juga menanamkan dasar-dasar kepemimpinan melalui sinergi dengan sesama murid.
Suparno memaparkan bahwa organisasi kesiswaan seperti OSIS dan Majelis Perwakilan Kelas (MPK) dilibatkan secara aktif sebagai mentor pendamping bagi adik kelas mereka. Melalui metode pengawasan berjenjang ini, budaya kepemimpinan dan nilai organisasi tersalurkan tanpa membuka celah adanya perundungan.
”Jadi panitianya bukan hanya guru, justru kita merangkul organisasi kesiswaan seperti OSIS, MPK, Rohis juga untuk ikut serta dalam satu kepanitiaan yang desainnya kayak tadi, jadi mentor,” jelas Suparno saat menerangkan struktur pendampingan murid baru.
Guna menjamin keamanan selama seluruh rangkaian orientasi, Kemendikdasmen menegaskan komitmen penegakan Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 tentang pelaksanaan MPLS Ramah. Fajar menyatakan bahwa kementerian melakukan pengawasan langsung ke lapangan untuk memastikan tidak ada celah bagi tindakan kekerasan fisik maupun psikologis bagi peserta didik baru.
”Pertama tentu kita sudah bikin surat edaran ya, ada Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026. Yang kedua kita juga melakukan sosialisasi. Yang ketiga kami juga melakukan secara proaktif datang ke sekolah-sekolah untuk memastikan tidak ada pembulian dan perpeloncoan,” tegas Fajar.
Komitmen tersebut diperkuat pihak sekolah dengan menerapkan sistem transparansi informasi kepada wali murid. Buku panduan pelaksanaan serta rincian kegiatan MPLS didistribusikan secara terbuka agar orang tua dapat ikut memantau jalannya orientasi secara berkala, memastikan proses adaptasi murid baru berjalan dengan aman, tertib dan menyenangkan. (**)








