Bengkulu dan Pembrangusan Fakta Sejarah (Part 1)

Rabu, 14/03/2018 - 16:13
Sebuah monumen di Benkoelen, diresmikan oleh Mrs. S.L. Zieck-van Hengel-istri dari penduduk.

Sebuah monumen di Benkoelen, diresmikan oleh Mrs. S.L. Zieck-van Hengel-istri dari penduduk.

Opini: Benny Hakim Benardie

Bila ada provinsi yang banyak menyimpan fakta sejarah peradaban anak negeri, salah satunya adalah Bengkulu, Bencoolen atau Benkulen. Hanya saja  negeri ini sangat minim akan literatur sejarahnya. Ironisnya, muatan lokal dunia pendidikan di Provinsi Bengkulu,  mulai sekolah dasar hingga perguruan tinggi, terpaksa mempelajari sejarah yang ada  di provinsi lain.

Pilukah perasaan anak Negeri Bengkulu dengan realitas yang ada? Tentunya saja tidak. Skeptis, apatis dan vandalis sudah terjadi sejak generasi sebelumnya, tak lama negeri ini menjadi provinsi. Saat ini generasi penerus hanya punya kepentingan sesaat dan ketidakperdulian.

Penulis ingin mengatakan, “Pupusnya lentera pembuka tabir kebenaran akibat minimnya babat dan kronik negeri ini. Bangkitnya anak negeri, terpaksa  melestarikan kebohongan sejarah”.

Banyak anak negeri yang tidak tahu, kalau pantaai  dibagian barat  Pulau Sumatera ini, jauh sebelum Ratu Agung menjadi Akuwu atas diperintah Kesultanan Banten Fhathahillah, Tahun 1543 hingga 1475 Masehi, sudah ada penduduk dari Bangsa China (Hyunan).  Ini terjadi Sebelum Masehi, dimana mereka menyebut Negeri Bengkulu ini dengan sebutan Negeri Lu-Shiangshe berarti Batang Air.

Dari exsodus bangsa China pertama inilah berawal peradaban Suku Rejang, Tahun 195 hingga 264 Sebelum Masehi. Sejarah Ini belum terkuak sepenuhnya, termasuk misi mereka mengarungi samudera luas untuk mencari emas di daerah Lebong Tandai.      

Kaya Peninggalan

Nama Bengkulu yang tersebut dalam beberapa peta kuno abad 15 Masehi, pada abad pertengahan, abad 10 Masehi, memang banyak tidak tersiar kabar aktifitas penduduknya. Negeri ini seakan tengelam dalam keheningan dan kenikmatan dengan kekayaann alamnya. Baru Tahun 15 Masehi, negeri ini dikabarkan oleh seorang mualim, yang memerintahkan kesultanan  Banten Tahun 1481 hingga 1531, Sultan Maulana Hasanuddin dalam perjalanannya singgah ke negeri Inderapura dan Negeri Sungai Serut (Bengkulu).

Dalam sebuah naskah kuno berjudul “Berniaga Kenegeri Cina”  yang ditemukan di Tibet  China, Tahun 116 Sebelum Masehi  menceritakan Negeri Lu Shiangshe disebutkan berada diseberang laut, Phaalas (Sumatera) yang makmur, perniangaanya mengunakan Emas.

Kilasan fase ini saja, tampak banyak hal yang menarik dan diambil manfaatnya bila dikuak menjadi literatur kepustakaan, termasuk budaya dan tradisi saat itu. Belum lagi masuk fase datangnya Kolonial Inggris pada abad ke16 dan Belanda pada abad ke-18 dengan misi awal mencari hasil bumi termasuk tambang emas di Lebong Tandai.

Di era Inggris inilah beberapa bangunan didirikan dan hingga kini beberapa masih tegak berdiri, sisanya dihancurkan, diabaikan dan terlanjur dihancurkan, dengan alasan akibat kebakaran disekitar lokasi bersejarah itu. Ini terjadi tahun 80-an, saat Provinsi Bengkulu masih dipimpin oleh anak negeri sendiri.  

Kolonial Inggris kala itu sempat membangun Fork York, hasil perjanjian  dengan kerajaan kecil Selebar dengan British East India Company, Tahun 1685 yang memberi Inggris hak untuk membangun sebuah gudang dan Benteng pertamanya. Masih di Tahun 80-an, Sisa peninggalan benteng itu ditemukan di pinggiran sungai daerah Pasar Bengkulu. Penemuan itu hingga kini diabaikan, seakan dicampakan begitu saja. Miriskah?

Hingga kini penulis belum menemukan dimana tempat hunian para kolonial Inggris itu tinggal menetap lama di negeri yang mereka sebut Bencoolen ini. Kalau tempat hunian itu memang ada, kenapa pemerintah dan bagian kepurbakalaan tidak menjadikannya cagar budaya dan menjadi daya tarik sendiri bagi Provinsi Bengkulu. Mungkinkan  tempat hunian orang-orang Inggris itu sudah dibragus atau dialihkan kepemilikannya ke pemerintah pusat, seperti nasib Pengadilan Tingkat Pertama Belanda yang kini di kuasai Kementrian Kehakiman dan Ham RI untuk dijadikan Rupbasan, di daerah Kampung Cina Kota Bengkulu. 

*Pemerhati Sejarah dan Budaya


 

Berita Terkait