Cak Hari bersama Kang Juari
Klikwarta.com, MALANG - Gunung yang tidak terlalu tinggi, berada di areal pertanian permukaan miring, cukup mencolok terlihat jauh. Bunga berwarna warni ditambah tulisan berukuran raksasa, memperjelas keberadaannya.
Gunung Cilik, disebut warga setempat, dan konon ada legenda yang masuk kategori "literary cycle" tersemat dalam riwayatnya. Untuk mengetahui kejelasannya, Cak Hari, pemerhati budaya, bersama Kang Juari, sesepuh desa setempat, menelusuri jejak masa lalu, yang konon ada di tempat itu, jumat (05/03/2021)
Lokasi Gunung Cilik tersebut berada di Desa Madiredo, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, dan untuk mencapainya, cukup berjalan kaki sejauh sekitar 100 meter dari jalan pedesaan. Jalan yang dilewati tidaklah sulit, justru mengesankan alam pedesaan yang sejuk dan indah.
Dijelaskan Kang Juari, Gunung Cilik dulunya pernah menjadi tempat pertapaan Panji Laras, benar tidaknya informasi itu, relatif. Panji Laras sendiri terhubung langsung dengan kisah Panji Inu Kertapati atau Panji Asmorobangun, dan Dewi Sekartaji atau Candra Kirana. Keduanya terkoneksi kehidupan di era Kerajaan Khadiri.
"Kata orang-orang dulu, disini tempat pertapaan Panji Laras. Bila disambungkan teori gathuk mathuk, riwayat kehidupan Panji Laras di masa muda ada di sekitar sini".
Dalam perjalanan hidupnya, Dewi Sekartaji ditolong Mpu Kapulaga, dari menjaganya, hingga merawatnya. Kondisi saat itu bisa dikatakan kehidupan Dewi Sekartaji cukup berat, lantaran dalam kondisi hamil.
Akhirnya Dewi Sekartaji melahirkan, dan bayinya dinamakan Panji Laras. Menginjak usia dewasa, Mpu Kapulaga melatihnya berbagai ilmu pengetahuan, agar bisa mewujudkan cita-cita ibunya.
Kisah Panji Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji masuk dalam literasi kesusasteraan yang hingga kini terus menerus di tulis dengan sedikit perbedaan versi, tetapi semua tetap satu akar cerita.
Menurut Kang Juari, legenda tersebut diceritakan turun temurun sebagian warga yang mayoritas berprofesi petani di desa itu. Kendati bersifat legenda, ada sebagian warga meyakini kebenaran cerita itu, dan peristiwa itu pernah terjadi di tempat itu.
"Sebagian warga ada yang percaya, sebagian tidak, tapi mayoritas percaya kalau cerita itu ada hubungannya dengan tempat ini. Sudah banyak orang-orang dari luar daerah datang disini, ada yang berusaha menelusuri kebenarannya, ada yang cuma ingin tahu lokasinya".
Dipuncak Gunung Cilik, terdapat goa berdiameter 1,6 meter dan tinggi 2,2 meter. Goa tersebut bukan beratap bebatuan, tetapi akar pohon. Yang menarik dari goa ini, kendati lobang terbentuk oleh akar pohon, kerapatan akar menutup seluruh atap, otomatis air hujan tak bisa menembus.
Disekitar goa, berbagai jenis bunga tertanam, dan penataan bunga secara profesional, membuat areal goa tak menunjukkan tanda-tanda dulunya pernah menyandang status "wingit". Visualisasi dari puncak Gunung Cilik, terlihat jelas permukaan miring areal pertanian warga yang didominasi holtikultura.
Gasebo berukuran minimalis mengitari areal itu, menbah suasana alam pedesaan yang nyaman dan asri. Gasebo tersebut secara keseluruhan terbuat dari bambu, dan kesan natural muncul ketika kita duduk di tempat itu atau hanya sekedar beristirahat.
Dibalik legenda yang melekat di Gunung Cilik tersebut, mau tidak mau ada hal yang harus diakui kebenarannya, yaitu keindahan pemandangan alam di sekitarnya. Selain itu, potensi wisata yang bisa menarik perhatian publik, setidaknya mendongkrak ekonomi warga setempat. (dodik)








