Foto : Ilustrasi
Oleh : Adzhaqirra Syahsheiqa Sydqi Rahadi
Klikwarta.com - Di dunia yang sibuk dan sering kali gaduh, menjadi perempuan berarti belajar memahami banyak hal tuntunan, ekspektasi,Bahkan pengabdian. Tapi sebaliknya, tidak semua orang terbiasa untuk memahami perempuan. Seakan-akan perempuan adalah makhluk yang terlalu rumit, terlalu emosional, terlalu ini dan itu. Padahal bisa jadi, yang rumit adalah cara kita memperlakukan mereka.
“Perempuan itu maunya dimengerti.” Kalimat ini sering muncul dalam percakapan sehari-hari. Tapi sayangnya, ungkapan itu justru sering membuat perempuan semakin terpinggirkan. Karena pada kenyataannya, mereka tidak ingin dihakimi atau dilabeli, mereka hanya ingin didengarkan.
Memahami Bukan Menghakimi
Dalam kehidupan sosial, perempuan tumbuh dengan banyak label. “Harus kuat tapi jangan keras,” “Harus pintar tapi jangan terlihat mendominasi,” “Harus cantik tapi jangan terlalu percaya diri.” Perempuan hidup di antara dikotomi yang menyesakkan.
Penelitian dari Tanti Nurhidayah dalam Jurnal Psikologi Perempuan (2020) menyebutkan bahwa perempuan sering kali mengalami tekanan emosional akibat tuntutan sosial yang bertentangan. Di satu sisi mereka dipaksa berdaya, di sisi lain diminta tetap tunduk pada norma-norma patriarkal.
Sementara itu, banyak perempuan dipaksa untuk memahami orang lain, anak, pasangan, orang tua, rekan kerja tapi sangat jarang diberi ruang untuk dipahami. Mereka lebih sering diminta diam, mengalah, dan “jangan terlalu sensitif.”
Padahal, menurut Dian Pratiwi dari Universitas Airlangga dalam penelitiannya tentang Komunikasi Gender (2021), salah satu faktor yang membuat relasi menjadi tidak sehat adalah kegagalan untuk mendengarkan perempuan secara utuh. Bukan hanya mendengar kata-katanya, tapi juga memahami konteks, perasaan, dan alasannya.
Emosi Bukan Kelemahan
Masyarakat sering menganggap perempuan terlalu emosional. Namun hal itu bukan kelemahan. Justru seperti dijelaskan dalam psikologi sosial dan gender, perempuan cenderung memiliki kemampuan lebih baik dalam mengekspresikan dan memahami emosi, yang menjadi dasar penting dalam membanun empati.
Perempuan tahu bagaimana rasanya didengarkan, karena mereka seringkali menjadi pendengar. Maka saat perempuan mengungkapkan isi hati, yang mereka butuhkan bukan solusi atau saran, mereka hanya butuh ruang untuk merasa aman, dan waktu untuk didengarkan tanpa interupsi.
Ini sesuai dengan pemikiran Karlina Supelli, seorang aktivis perempuan Indonesia, yang menekankan bahwa perempuan bukan sekedar objek, mereka adalah subjek yang memiliki perasaan, dan pemikiran. Maka untuk memahami perempuan, kita harus berhenti memperlakukannya sebagai teka-teki, dan mulai memperlakukannya sebagai manusia utuh.
Budaya dan Media: Siapa yang Mengontrol Narasi?
Di Indonesia, budaya patriarki masih sangat kuat mempengaruhi cara kita memandang perempuan. Dari pergaulan hingga institusi pendidikan, perempuan sering kali digambarkan sebagai sosok yang harus diselamatkan, harus cantik, harus penurut. Tidak banyak ruang yang memberikan mereka kesempatan untuk tampil sebagai pengambil keputusan yang berani, independen, dan kompleks.
Akibatnya, pemahaman masyarakat terhadap perempuan menjadi sempit. Emosi dianggap kelemahan, ambisi dianggap arogansi, ketegasan dianggap tidak feminim. Hal ini tentu membuat banyak perempuan harus menyembunyikan sebagian dari dirinya agar bisa diterima.
Disisi lain, menurut data Komnas Perempuan(2022), masih banyak kasus kekerasan emosional maupun verbal yang dialami perempuan dalam relasi personal maupun sosial, dan sebagian besar bermula dari gagalnya pasangan atau keluarga untuk memahami kebutuhan emosional mereka.
Cara Memahami: Sederhana Tapi Tidak Mudah
Memahami perempuan tidak butuh teori ribet, kuncinya adalah kehadiran dan empati. Coba tanya perempuan disekitarmu “Apa yang kamu rasakan hari ini?” dan dengarkan jawabnnya tanpa menyela, tanpa langsung memberi solusi. Cukup hadir dan menjadi tempat aman. Kareba sering kali, perepmpuan tidak ingin diselesaikan, mereka hanya ingin fipahami dan deiperlakukan sebagai manusia.
Dalam jangka panjang, kemmpuan utnuk mendengarkan ini akan menciptakan relasi yang lebih sehat. Tidak hanya dalam hubungan romantis, tapi juga pertemanan, keluarga, dan ruang kerja.
Seperti yang disebut dalam buku Psikologi Sosial oleh Sarwono (2011), komunikasi empatik adalah bentuk komunikasi terdalam, dan mampu memperkuat kepercayaan dalam hubugan antarindividu. Ketuka sesorang terutama perempuan merasa benar-benar dipahami, dia akan merasa lebih aman dan utuh.
Bukan Rumit Tapi Realistis
Memahami Perempuan bukan tentang mencari rumus sempurna, karena tidak ada satu perempuan pun yang sama denga yang lainnya. Seriap perempuan punya kisah, luka, dan kekuatannya sendiri. Maka daripada sibuk menilai mereka terlalu rumit, lebih baik kita belajar untuk hadir dan menghargai keutuhan mereka.
Dan untuk kamu, para perempuan yang sering merasa tidak dimengerti, percayalah kamu berhak dipahami. Kamu tidak terlalu emosional. Kamu tidak terlalu sensitif. Kamu manusia. Dan kamu layak mendapat ruang untuk menjadi dirimu sendiri, tanpa harus selalu kuat, tanpa harus selalu benar.








