Malamang, Sebuah Tradisi dan Keharusan

Senin, 20/06/2022 - 15:44
Potret dari hasil malamang (membuat lemang). Sumber: pexels.com

Potret dari hasil malamang (membuat lemang). Sumber: pexels.com

Oleh: Prisca Arianto

Masyarakat Minangkabau dikenal dengan budaya banyaknya tradisi atau kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa tradisi yang terdapat dalam kehidupan masyarakat Minangkabau seperti, tradisi mairiak (pada waktu panen padi), bararak (pada waktu baralek/pesta), balimau, malamang, babako dan lain-lain.

Aneka tradisi di Minangkabau, mengandung nilai luhur yang tetap dijaga oleh masyarakat Minangkabau. Salah satu tradisi yang telah berlangsung sejak dahulu adalah, tradisi malamang (membuat lemang). Malamang merupakan salah satu tradisi masyarakat Minangkabau yang tak lekang di makan zaman.

Lamang adalah bahasa Minang yang berarti lemang (makanan lemang). Lamang merupakan makanan tradisional Minangkabau  yang dibuat dari beras ketan, santan, dan dimasukkan ke dalam bamboo, di dalam bambu disisipkan daun pisang lalu di bakar di atas api.

Tujuan malamang bagi masyarakat Minangkabau adalah, sebagai sarana berkumpul dan mempererat tali silaturahmi. Biasanya, lamang dibuat dalam jumlah banyak dan dilakukan bergotong royong dengan pembagian tugas pencari bambu sebagai tempat adonan, pencari kayu bakar untuk memanggang, penyisipan pada bahan-bahan untuk membuat lemang.

Di Pariaman, Sumatra Barat, Malamang sudah menjadi keharusan yang dilakukan saat menyambut hari-hari besar. Contohnya, hari besar keagamaan pada Maulid Nabi.  Tradisi malamang sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan sampai sekarang masih dilakukan oleh kebanyakan orang Pariaman.

Tradisi malamang (membuat lemang), biasanya dilakukan menjelang bulan Ramadhan, lebaran (Idul Fitri dan Idul Adha), peringatan Maulid Nabi, baralek (pesta pernikahan), dan hari kematian. Ini mencerminkan bahwa malamang tidak hanya sebagai kebiasaan atau tradisi pada waktu tertentu oleh masyarakat Minangkabau, melainkan juga sebagai nilai ekonomis untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Di Minangkabau, malamang tentunya tidak bisa dillepaskan dari tradisi atau kebudayaan, karena tradisi malamang semakin memperkuat ikatan kekerabatan, solidaritas, dan simbol antara orang-orang sekerabat yang berkaitan dengan folk culture (budaya rakyat) Minangkabau.

Macam-macam lamang yang ada di Minangkabau diantaranya, lamang puluik (lemang dari beras ketan), lamang pisang (lemang dari pisang), lamang kuniang (lemang dari tepung beras dan kunyit), lamang ubi (lemang dari ubi kayu yang dicampur dengan saka atau gula merah). Lamang (lemang) akan semakin nikmat jika disantap hangat-hangat, daripada ketika sudah dingin. Lamang (lemang) makin nikmat apabila dihidangkan dengan tapai (ketan hitam).

Tradisi malamang sebagai budaya Minangkabau harus tetap dilestarikan. Hal ini, menjadi tugas pemerintah dan masyarakat Minangkabau yang perlu dilakukan secara intensif dengan tujuan memberdayagunakan kelestarian tradisi malamang dalam kehidupn masyarakat Minangkabau, agar tidak hilang di makan zaman. (PA)

Berita Terkait