Reses penyerapan aspirasi masyarakat oleh Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Asrar, di Desa Sidomulyo, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Senin (20/10/2025).
Klikwarta.com, Karanganyar – Rencana proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di lereng Gunung Lawu yang dilelang oleh Kementerian ESDM memicu gelombang penolakan keras dari masyarakat Kecamatan Jenawi, Karanganyar.
Dalam forum reses Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Asrar, di Desa Sidomulyo, Senin (20/10/2025), warga secara terang-terangan menyatakan kekhawatiran mendalam dan meminta proyek strategis nasional (PSN) tersebut segera dibatalkan.
Penolakan kolektif ini didasari oleh kekhawatiran serius terhadap kelestarian ekosistem Lawu yang menjadi tumpuan hidup mereka, serta nilai sejarah dan spiritual gunung tersebut. Masyarakat Jenawi, yang hidupnya bergantung pada sumber daya alam Lawu, menyoroti empat isu utama yang menjadi alasan utama penolakan mereka.
Isu lingkungan menjadi kekhawatiran terbesar warga. Mereka khawatir kegiatan eksplorasi geotermal, terutama yang melibatkan penyedotan air tanah secara masif dan teknologi fracking (injeksi air bertekanan tinggi), akan merusak keseimbangan alam.
"Warga khawatir penyedotan air tanah secara masif untuk proyek geotermal akan mengancam ketersediaan sumber air vital yang selama ini menghidupi ribuan warga di lereng Lawu," ujar Suwardi, salah satu warga Sidomulyo.
Lebih jauh, warga menilai adanya aktivitas injeksi air bertekanan tinggi ke dalam bumi dikhawatirkan dapat memicu rekahan di bawah tanah dan berpotensi menimbulkan gempa-gempa minor yang mengancam pemukiman warga. Mereka menilai risiko bencana yang ditimbulkan tidak sebanding dengan manfaat proyek.
Selain isu lingkungan, masyarakat juga menyoroti dimensi historis dan spiritual Gunung Lawu. Gunung Lawu dianggap sebagai "Mahkota Spiritual Tanah Jawa" yang di dalamnya terdapat situs-situs bersejarah vital seperti Candi Sukuh dan Candi Cetho.
"Pembangunan proyek berskala besar dikhawatirkan akan merusak situs-situs bersejarah vital seperti Candi Sukuh dan Candi Cetho yang memiliki orientasi spiritual terhadap Gunung Lawu," imbuh Mardi, warga lainnya.
Penolakan ini muncul karena warga merasa tidak pernah dilibatkan dalam sosialisasi atau kajian transparan mengenai dampak proyek oleh pemerintah pusat maupun investor.
Menanggapi aspirasi yang mendominasi forum reses, Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Asrar, menyatakan kesiapan untuk berdiri di barisan terdepan bersama masyarakat Jenawi menolak proyek geotermal di Gunung Lawu.
"Gunung Lawu bukan sekadar tumpukan batu atau sumber daya alam. Ia adalah pusat budaya, spiritual, dan warisan leluhur yang harus dilestarikan. Aspek historis, sosial, dan spiritual di Lawu sangat penting," tegas Asrar.
Asrar berjanji akan membawa suara penolakan masyarakat Jenawi ini ke tingkat Provinsi dan Pusat, mendesak Kementerian ESDM untuk mempertimbangkan kembali rencana lelang dan eksplorasi di kawasan Lawu demi menjaga kelestarian lingkungan dan warisan budaya yang diyakini sebagai "Mahkota Spiritual Tanah Jawa."
"Kami menolak rencana proyek ini, karena ini bukan hanya soal potensi kerusakan alam, tetapi juga menyangkut kelestarian warisan peradaban tanah Jawa," tandasnya.
Pewarta : Kacuk Legowo








